Jumat, 13 November 2009

Biografi Al Ustadz Al Habib Sholeh bin Ahmad Al 'Aydrus

ADDAA’I ILALLAAH AL USTADZ AL HABIB SHOLEH BIN AHMAD AL AYDRUS, MALANG.

Meskipun mempunyai keluasan ilmu, sinar ketawadhuan terpancar di wajahnya. Memberikan keteduhan bagi siapa saja yang memandangnya. Namun, ketawadhu’an dan keramahannya tidak mengurangi ketegasannya dalam masalah hukum Islam.

Beliau adalah Al Habib Soleh bin Ahmad bin Salim Alaydrus, salah seorang ulama yang sangat disegani di Kota Malang. Habib kharismatik ini lahir di Kota Malang pada 18 Juni 1957. Pendidikan dasarnya diperoleh di Madrasah Ibtidaiyah At-Taroqi, Malang, yang dikelola ayahnya sendiri, Habib Ahmad bin Salim Al-Aydrus.

Selesai dari Madrasah Ibtidaiyyah, ia melanjutkan pendidikannya di Tsanawiyah di Ponpes Darul Hadits Al-Faqihiyyah Malang. Di pondok pesantren ini, ia belajar dasar-dasar ilmu hadits langsung dari Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Bilfagih yang di kemudian hari menjadi mertuanya.



Isyaroh Untuk Belajar Kepada As Sayyid Muhammad Al Maliky

setelah belajar di Pondok Pesantren Darul Hadist Al-Faqihiyyah, sekitar tahun 1977, Habib Sholeh Bin Ahmad Al Aydrus mendapat tawaran beasiswa dari negeri Yordania dan Libya. Namun putra Habib Ahmad Bin Salim Al Aydrus (almarhum) ini tidak menerima tawaran beasiswa tadi. Habib Sholeh justru memutuskan berangkat ke Makkah Al Mukarromah untuk berguru kepada Sayyid Muhammad Bin Alawy Al Maliky atau yang biasa kita kenal dengan sebutan Imam Maliky.

Ihwal dipilihnya Makkah sebagai tempat tholabul 'ilmi (menuntut ilmu) tidak terlepas dari isyarah Habib Sholeh Bin Muchsin Al Hamid (dari Tanggul) yang menyuruh Habib Sholeh pergi ke Makkah Al Mukarromah. "Tuntutlah ilmu ke habibmu di Madinah Al Munawarroh," kata Habib Sholeh Bin Muchsin Al Hamid kepada Habib Sholeh yang masih ada ikatan keluarga. Yang dimaksud habib di sini adalah Rasulullah SAW.

Sehari setelah mendapat isyarah dari Habib Sholeh Bin Muchsin Al Hamid, Habib Sholeh diberitahu pamannya bahwa dirinya sudah ditunggu oleh Imam Maliky di Makkah. Akhirnya berangkatlah Habib Sholeh meninggalkan Indonesia untuk berguru kepada Al-Imam As-Sayyid Muhammad bin Alawy Al-Maliki.

Rupanya bukan hanya Habib Sholeh saja yang berangkat ke Makkah. Beberapa ulama dari kalangan habaib maupun ulama pesantren juga berguru ke Imam Maliky. Teman satu angkatan Habib Sholeh diantaranya Habib Abdul Qadir Bin Muhammad Al Haddad (Al-Hawi), Habib Ahmad Bin Husein Assegaf (Bangil), Habib Muhammad Bin Idrus Al Haddad, Habib Muhammad Bin Husein Alatas (cucu Habib Ali, Bungur), Habib Muhammad Bin Ali Al Habsyi (Probolinggo), KH. Thoefur Arafat (Purworejo), KH Jauhari (Magelang), KH Ali Karar (Madura), dan KH Abdul Muis (Bondowoso).

Begitu sampai di Makkah Habib Sholeh sangat senang karena bisa bertemu dengan Imam Maliky, salah satu waliyullah (Semoga Allah merahmati beliau) yang sangat dihormati. Saat bertemu gurunya itu, Imam Maliky berkata kepada Habib Sholeh, "Aku melihat pada diri kamu ada pancaran cahaya ilmu,". Ungkapan Imam Maliky ini merupakan isyarah bahwa Habib Sholeh dianggap mampu menerima ilmu yang akan diberikan oleh Imam Maliky sekaligus menjadi penyeru ummat di kemudian hari. Sebab ada riwayat yang menyebutkan bahwa Imam Maliky memiliki kemampuan membaca seseorang. Imam Maliky hanya menerima murid baru berdasarkan isyarah yang beliau peroleh.

Selama mondok di Ribbat Maliky, Habib Sholeh tinggal di kediaman Imam Maliky. Jadi setiap hari, Habib Sholeh mengetahui aktivitas Imam Maliky seperti apa. Kediaman Imam Maliky sendiri cukup luas untuk menampung santri yang datang dari berbagai penjuru dunia. Selama mondok di sana, segala keperluan Habib Sholeh dan santri-santri yang lain betul-betul dilayani dengan baik oleh Imam Maliky. Mulai tempat tidurnya, makanannya, hingga kitab-kitabnya, semuanya ditanggung oleh beliau.

Uniknya lagi, setiap santri yang belajar di Baitul Maliky juga mendapatkan uang saku yang nilainya tergolong cukup besar. Kalau TKI (Tenaga Kerja Indonesia) digaji 600 real, santri-santri Imam Maliky diberi uang saku 1.000 real. Habib Sholeh pun juga demikian.

Selama tinggal di sana tiada hari tanpa belajar. Para santri, termasuk Habib Sholeh harus mengikuti jadwal yang wajib ditaati. Jadwalnya sangat padat. Aktivitas pondok dimulai pukul 02.00 dini hari. Saat enak-enaknya tidur, justru disuruh bangun untuk qiyamul lail dan dzikrullah. Semua murid wajib bangun tanpa perkecualian. Aktivitas ibadah pagi-pagi buta ini wajib dilaksanakan oleh semua santri sampai sholat Shubuh tiba.

Sehabis Shubuh dilakukan pembacaan Rotib Al Haddad sampai pukul 07.30. Kalau sudah pukul 07.30 para santri diperbolehkan istirahat sejenak. Setengah jam kemudian belajar lagi sampai jam 1 siang waktunya sholat Dhuhur. Jam 2 siang tancap gas lagi sampai sholat Ashar. Habis sholat Ashar dilanjutkan dengan belajar lagi sampai setengah enam sore. Lalu Maghribnya sholat berjamaah di Masjidil Haram. Dilanjutkan dengan pengajian yang dipimpin Imam Maliky di Masjidil Haram tepatnya di Pintu Babussalam. Mirip pengajiannya Masjid Agung Jami' selepas Maghrib. Pengajian di Masjidil Haram ini selesai setelah Isya'.

Bagi murid-murid Imam Maliky, selepas Isya' belum waktunya istirahat. Mereka harus belajar lagi sampai pukul 21.00 malam. Baru di atas jam 9 malam, murid-murid bisa istirahat setelah seharian menimba ilmu. Tapi esok jam 2 harus bangun lagi untuk melakukan kegiatan rutinitas seperti tadi.

Dalam seminggu, hanya hari Kamis dan Jumat saja yang dijadikan sebagai hari libur. Toh kenyataannya jarang sekali murid-murid Imam Maliky yang memanfaatkan liburnya dengan bersantai dan beristirahat. Biasanya kalau hari Kamis dan Jumat, Imam Maliky mendapati muridnya hanya duduk-duduk saja, maka dipanggilah muridnya itu. Kemudian disuruh menghafalkan hadist dan diskusi soal agama. Jadi sama saja, tidak ada liburnya.

Ketika belajar di Masjidil Haram, para santri Sayyid Maliki ini biasanya duduk sekitar empat sampai lima jam. Padahal banyak santri yang mengeluh sering beser (bolak balik buang air kecil). Kemudian ada beberapa santri memberanikan diri bertanya pada Sayid Muhammad, "Bagaimana kami sering buang air kecil (beser)?". Sayid Muhammad menjawab, "Wahai anak-anakku, air zamzam itu diperuntukkan bagi apa saja. Sekarang berdoalah agar tidak buang air selama di Masjidil Haram." Para santri pun mengikuti anjuran Sayyid Maliki. Akhirnya, meskipun setiap 15 menit para santri minum air zamzam, namun tidak ada yang mengeluh lagi. Memang Rasulullah SAW bersabda, "Air zamzam itu diperuntukkan bagi apa saja, pasti terkabul."

Banyak pengalaman yang menarik selama dia menimba ilmu di Ribath Maliki. Hampir setiap malam Sayid Muhammad Al-Maliki mengajak santri-santrinya ke Masjidil Haram. “Kalau beliau masuk ke masjid, banyak orang yang datang kepadanya. Sayid Maliki sudah menyiapkan sedikit bekal. Dan terkadang dalam tasnya ada uang untuk diberikan kepada mereka yang membutuhkan,” kenang Habib Soleh mengenai sosok gurunya itu.

Tidak jarang, kata Habib Soleh, hampir semua santrinya diajak ke rumah orang-orang jompo untuk membagi-bagikan bantuan. Selepas itu mereka kembali ke Masjidil Haram untuk mengaji. ”Kami didoakan, insya Allah, menjadi ulama yang barakah dan bermanfaat ilmunya.”

Pola pengajaran yang dilakukan oleh Imam Maliky sangat spesial karena Imam Maliky melakukan pendekatan secara kekeluargaan kepada semua muridnya. Pendekatan yang membuat murid-muridnya merasa termotivasi belajarnya? Dalam setiap pengajaran, Imam Maliky menghilangkan sekat-sekat pemisah antara guru dengan murid. Imam Maliky menganggap muridnya sebagai anaknya. Begitu pula dengan murid beliau. Mereka menganggap Imam Maliky sebagai orang tua sendiri. Karena itu murid-murid Imam Maliky menyebut Imam Maliky dengan sebutan Abuyya yang berarti ayahanda. Rupanya panggilan Abuya ini menjadi inspirasi bagi pondok-pondok di Indonesia, khususnya bagi pengasuh pondok yang pernah mondok di Imam Maliky sana. Akhirnya para santri di Indonesia lazim memanggil kyainya dengan panggilan Abuya.

Karena tinggal di kediaman Imam Maliky cukup lama, Habib Sholeh faham betul kepribadian agung Imam Maliky. Bagi Habib Sholeh Imam Maliky adalah guru yang sangat arif. Meskipun Imam Maliky bermazhab Maliki, kenyataannya Imam Maliky lebih faham Mazhab Syafii. Istilah sekarang, Imam Maliky sangat toleran dengan perbedaan. Selain itu, kalau ada murid yang baru datang ke Makkah, Sayyaid Maliki pasti mengajaknya ke makam Rasulullah di Masjid Nabawi. Juga diajak ke Goa Uhud sekaligus ditunjukkan tempat-tempat di mana Nabi duduk, dan di mana Nabi berdiri. Dengan metode ini, murid pun langsung paham. Teori iya, praktek juga jalan.

Selama 5 tahun dalam gemblengan Imam Maliky, Habib Sholeh sudah mengkhatamkan 100 kitab. Rupanya 5 tahun belajar di Imam Maliky masih dianggap kurang oleh Habib Sholeh. Akhirnya Habib Sholeh menambah lagi mondoknya meski beberapa sahabatnya ada yang sudah kembali ke tanah air untuk berdakwah.



Memantapkan Langkah Dakwah

Setelah menempuh pendidikan di Ribath Maliki selama sepuluh tahun, Habib Soleh pulang ke Indonesia tahun 1988. Kemudian ia menikah dengan putri Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih. Habib Sholeh kemudian mengabdikan ilmunya mengajar di Ponpes Darul Hadits.

Habib Sholeh diwasiati oleh Imam Maliky untuk menjadi penerus dakwah Rasul. "Kuunuu waratsatan nabi shallahhu 'alaihi wasallam," pesan Imam Maliky. Karena itu tidak heran jika pola pengajaran dari sang guru diamalkan betul oleh Habib Sholeh melalui model pengajaran yang simpel tapi tepat sasaran.

Saat ini, selain menjadi pengajar di Pondok Pesantren Darul Hadits Malang, ia juga membuka majelis taklim di rumahnya, Jln. Bareng Raya Gg. 1 No. 2, yang bernama Majelis Taklim wa Dakwah Lil Habib Soleh Al Aydrus. Pengajian dilakukan setiap hari Jumat, Senin, dan malam Rabu. Aktivitasnya memang banyak dicurahkan untuk mengajar. Pada bulan-bulan tertentu, Habib Sholeh juga menyempatkan diri untuk berdakwah di berbagai daerah baik di nusantara maupun di luar negeri seperti di Malaysia, Singapura, dan Brunai Darussalam,

Adapun materi yang disampaikan dalam tiap taklimnya, Habib Soleh merujuk kitab-kitab ulama salaf, seperti dalam bab fiqih (Minhajut-Thalibin, karya Imam Nawawi, Al Muhadzdzab, karya Imam Ishaqi As-Sirazi, Minhajul Qawim, karya Syekh Bafadhal. Jam’ul Jawami, karya Imam Subkhi untuk ushul fiqihnya)

Sedang kitab hadits yang beliau ajarkan adalah Shohih Bukhori, Al Adzkar an-Nawawiyah. Untuk masalah tauhid, beliau mengajarkan kitab Jauharud Tauhid. Adapun untuk masalah tasawuf, kitab yang beliau ajarkan ialah kitab Ihya Ulumiddin, kitab Bidayatul Hidayah, karya Imam Ghazali, kitab Ar-Risaalatul Qusyairiyyah, karangan Imam Qusyairi, kitab Sabilul Iddikaar dan An-Nasaih ad-Diniyah, karya Habib Abdullah Al-Hadad.

Pesan Syekh Maliky agar menjadi penerus nabi telah terbukti. Habib Sholeh telah menjadi jujugan ummat dalam masalah agama dan dakwah. Selain berdakwah lewat taklim, Habib Sholeh juga telah mengarang beberapa kitab yang dijadikan acuan dalam mengajar di banyak pondok pesantren. Lebih dari itu kitab –kitab karangannya juga dijadikan pedoman dalam belajar mengajar di berbagai negara termasuk di Makkah, Madinah, Mesir, Yaman.



Kitab-kitab Susunan Habib Sholeh bin Ahmad Al-Aydrus,

Dalam Bab Hadits : Lafthul Intibahat Fiima Hadzarol Ulama Minat Ta’lifaat, Tuhfatul Akhyaar Fii takhriji maa fii Nashooihi Minal Akhbaar, Faidhul ‘Allam Fii Ahkamis Salaam, Syarhut Targhiib Wat Targhiib (dua juz)

Dalam Bab Fiqih : Amalul Yaumi Wal Lailah, Assyaafiyyah Fii Istilaahatil Fuqohaais Syafiiyyah (dua juz), Is’aaful Muhtaj Fii Syarhil qiilaat Al Murojjahah Fiil Minhaajj, Irsyadul Haair ilaa ‘aadabil Hajji Wal Musaafir Waz Zaair.

Bab Tasawwuf: Al Mawaahibul Jalyyah Fii Mukaatabaati Ahli Maqoomatil Aliyyah, An Nashrul Faaih Fii Tartiibil Fawaatih

Bab Tsaqofah Islamiyyah: Al Faidhul Ilmiyyah Wal Fakahaatul Adabiyyah, Al-mabadiul Asyroh (I’laamul Baroroh Bi mabadil Asyaroh, Fakkul Mughlaqoot Fii bayanii al-Murodaat Mina Alqoob Asmaail Kutubil Mutlaqoot).

Bab Tarikh : Minhaatul Ilaahil Ghoniy Fii Ba’dhi Manaaqibil Imam Alawy bin Abbas Al MalikyAl-Hasani, Lawaamiun Nuris Samii’ Fii Ba’dhi Manaaqibil Imaam Muhammad bin Alwy Al Maliky Al- Hasany

Bab Sastra : Al Lughotul Arobiyyah Lughotul Qur’an, Al Injaaz Fii Amtsalatil ahli Hijaaz, Nailul Arob Bii Muqoddimatil Khutbah

Bab Nahwu : Al-Ghosst An Nahwiyyah

Sumber :
http://madinatulilmi.com/?prm=profil&id=43
13 November 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar