Umat Islam Indonesia kehilangan salah satu tokoh berpengaruh. Sabtu malam sekitar pukul 22.00 WIB Ketua Umum Persatuan Islam (Persis) KH Shiddiq Amien berpulang setelah sebulan dirawat intensif akibat terserang stroke. Almarhum sempat menjalani operasi untuk mengatasi pecahnya pembuluh darah di bagian otak.
Jenazah akan dikebumikan hari ini di Tasikmalaya. Sebelumnya, jenazah pria berusia 55 tahun ini disemayamkan dan dishalatkan di Kantor Pusat PP Persis, Jalan Perintis Kemerdekaan Bandung. "Kita kehilangan salah seorang yang menjadi sumber ilmu bagi umat. Semoga segala amal baik dan ibadahnya diterima Allah dan senantiasa dalam ampunan-Nya," tutur salah satu pengunjung situs www.persis.or.id, Ali Hidayah.
KH Shiddiq Amien terkena stroke ketika sedang sendirian mengendarai mobilnya di Nagreg, Bandung, pada hari Jumat (9/10). Tiba-tiba dia merasa pusing dan memarkir kendaraannya di tepi jalan. "Kemudian beliau menelepon (Arif) anaknya. Setelah itu Arif langsung menelepon saudara Aan Iskandar (sekretariat PP Persis) yang kebetulan sedang berada di Cibiru, setelah mendapat telepon, Aan langsung meluncur dan membawa Ustadz Shiddiq Amien ke RS Al Islam," ungkap
Sekretaris Dewan Hisbah PP Persis, Wawan Sofwan, sebelumnya.
Shidiq Amien terpilih kembali sebagai Ketua Persisi 2005-2009 dalam Muktamar Persis 9 September 2005. Selain aktif memimpin Persis, Ustadz Shiddiq Amien juga memimpin Pesantren Benda, Tasikmalaya. irf
Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/86276/Ustadz_Shiddiq_Amien_Wafat
1 November 2009
Jumat, 13 November 2009
Website Para Ustadz Rujukan Untuk Bertanya Permasalahan Agama Islam
Ikhwah pengunjung website Bahasa Arab Online yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, berikut ini situs para ustadz yang bisa menjadi rujukan kita untuk bertanya tentang permasalahan agama islam, silakan kunjungi dan ambil lautan faidah di dalamnya…
http://ustadzabdulhakim.co.cc/ (Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)
http://media-ilmu.com/ (Ustadz Zainal Abidin, Lc)
http://abuhaidar.web.id/ (Ustadz Abu Haidar)
http://ustadzkholid.com/ (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc)
http://ustadzaris.com/ (Ustadz Aris Munandar, SS)
http://abiubaidah.com/ (Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi)
http://ahmadsabiq.com/ (Ustadz Ahmad Sabiq)
http://abuzubair.net/ (Ustadz Abu Zubair, Lc)
http://abumushlih.com/ (Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi, SSi)
http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/ (Ustadz Abdullah Roy, Lc)
http://basweidan.wordpress.com/ (Ustadz Basweidan, Lc)
http://abu0dihyah.wordpress.com/ (Ustadz Marwan)
http://addariny.wordpress.com/ (Ustadz Musyaffa Ad-Dariny, Lc)
http://abusalma.co.cc/ (Ustadz Abu Salma)
http://noorakhmad.blogspot.com/ (Ustadz Abu Ali)
http://fariqgasimanuz.wordpress.com/ (Ustadz Fariq Gazim An-Nuz)
http://penuntutilmu.multiply.com/ (Ustadz Subkhan Khadafi, Lc)
http://abul-jauzaa.blogspot.com/ (Ustadz Abul Jauzaa)
http://serambimadinah.com/ (Website yang diasuh oleh para ustadz yang sedang menimba ilmu di kota Madinah An-Nabawiyah)
http://abufawaz.wordpress.com/ (Ustadz M. Wasitho, Lc)
http://alisamanhasan.blogspot.com/ (Ustadz Ali Saman Hasan, Lc)
http://adniku.wordpress.com/ (Ustadz Adni Kurniawan, Lc)
http://albamalanjy.wordpress.com/ Ustadz Abu Ubaidillah (Majalah Nikah)
http://alazharmesir.co.cc/ (Website yang diasuh oleh para mahasiswa Universitas Al Azhar Mesir)
http://abuthalib.blogspot.com/ (Ustadz Andi Abu Thalib)
http://abuabdurrahman.wordpress.com/ Ustadz Abu Abdirrahman (Al Azhar Mesir)
http://al-atsariyyah.com/ (Ustadz Muawiyah Hammad)
http://abu-ukkaasyah.co.cc/ Ustadz Abu Ukkaasyah (Ma’had Ibnu Abbas)
http://rumaysho.com/ (Ustadz Muhammad Abdul Tuasikal, ST)
Dari beberapa sumber, seperti: www.muslim.or.id
Bagi ikhwah yang ingin melengkapi atau memberikan koreksi silakan memberikan infonya melalui kolom komentar, Jazakumullahu khaira, BarakAllahu fikum…
Sumber :
http://badar.muslim.or.id/dari-redaksi/website-para-ustadz-rujukan-untuk-bertanya-permasalahan-agama-islam.html
3 November 2009
http://ustadzabdulhakim.co.cc/ (Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat)
http://media-ilmu.com/ (Ustadz Zainal Abidin, Lc)
http://abuhaidar.web.id/ (Ustadz Abu Haidar)
http://ustadzkholid.com/ (Ustadz Kholid Syamhudi, Lc)
http://ustadzaris.com/ (Ustadz Aris Munandar, SS)
http://abiubaidah.com/ (Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As Sidawi)
http://ahmadsabiq.com/ (Ustadz Ahmad Sabiq)
http://abuzubair.net/ (Ustadz Abu Zubair, Lc)
http://abumushlih.com/ (Ustadz Abu Mushlih Ari Wahyudi, SSi)
http://tanyajawabagamaislam.blogspot.com/ (Ustadz Abdullah Roy, Lc)
http://basweidan.wordpress.com/ (Ustadz Basweidan, Lc)
http://abu0dihyah.wordpress.com/ (Ustadz Marwan)
http://addariny.wordpress.com/ (Ustadz Musyaffa Ad-Dariny, Lc)
http://abusalma.co.cc/ (Ustadz Abu Salma)
http://noorakhmad.blogspot.com/ (Ustadz Abu Ali)
http://fariqgasimanuz.wordpress.com/ (Ustadz Fariq Gazim An-Nuz)
http://penuntutilmu.multiply.com/ (Ustadz Subkhan Khadafi, Lc)
http://abul-jauzaa.blogspot.com/ (Ustadz Abul Jauzaa)
http://serambimadinah.com/ (Website yang diasuh oleh para ustadz yang sedang menimba ilmu di kota Madinah An-Nabawiyah)
http://abufawaz.wordpress.com/ (Ustadz M. Wasitho, Lc)
http://alisamanhasan.blogspot.com/ (Ustadz Ali Saman Hasan, Lc)
http://adniku.wordpress.com/ (Ustadz Adni Kurniawan, Lc)
http://albamalanjy.wordpress.com/ Ustadz Abu Ubaidillah (Majalah Nikah)
http://alazharmesir.co.cc/ (Website yang diasuh oleh para mahasiswa Universitas Al Azhar Mesir)
http://abuthalib.blogspot.com/ (Ustadz Andi Abu Thalib)
http://abuabdurrahman.wordpress.com/ Ustadz Abu Abdirrahman (Al Azhar Mesir)
http://al-atsariyyah.com/ (Ustadz Muawiyah Hammad)
http://abu-ukkaasyah.co.cc/ Ustadz Abu Ukkaasyah (Ma’had Ibnu Abbas)
http://rumaysho.com/ (Ustadz Muhammad Abdul Tuasikal, ST)
Dari beberapa sumber, seperti: www.muslim.or.id
Bagi ikhwah yang ingin melengkapi atau memberikan koreksi silakan memberikan infonya melalui kolom komentar, Jazakumullahu khaira, BarakAllahu fikum…
Sumber :
http://badar.muslim.or.id/dari-redaksi/website-para-ustadz-rujukan-untuk-bertanya-permasalahan-agama-islam.html
3 November 2009
Ciri-ciri Ustadz yang Baik dan Benar
Setelah membaca posting rekan Eep Maqdir tentang ustadz yang seharusnya memiliki kemampuan komunikasi yang baik, saya tergerak untuk menulis dan mengulas secara lebih jauh serta komprehensif tentang karakter yang seharusnya dimiliki oleh ustadz (atau calon ustadz) yang baik dan benar.
Baik berarti bagus secara relatif di hadapan umat manusia. Sementara benar berarti bagus secara absolut di mata Allah ta’ala, dalam artian benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Dan menjaga keseimbangan antara keduanya merupakan requirement yang harus dipenuhi oleh seorang ustadz.
Saya memang bukan seorang ustadz. Tapi, dari mengamati dan mengikuti beberapa pengajian, menyimak radio dan televisi, dan sebagainya, sebenarnya kita bisa belajar banyak. Lalu, bagaimana sih sebetulnya ciri-ciri ustadz yang baik dan benar itu?
Tidak Menjelekkan Orang-orang Non-Muslim
Satu hal yang pertama harus dicatat adalah ustadz yang baik dan benar selayaknya tidak pernah menjelek-jelekkan, mengutuk, menyebut kata (maaf) “kafir”, dan sebagainya kepada orang-orang Non-Muslim. Termasuk di dalamnya adalah orang-orang Yahudi, bangsa Amerika, bangsa Israel, dan seterusnya. Allah sudah memberi warning dengan sangat tegas:
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
~QS. Al An’am 108
Sebaliknya, kita malah disuruh untuk menghormati dan melindungi orang-orang yang belum seiman dengan kita. Harapannya adalah agar mereka sempat mendengar firman Allah, mendapatkan petunjuk, dan kembali kepada jalan yang benar.
Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.
~QS. At Taubah 6
Senantiasa Lemah Lembut, Sopan, dan Simpatik
Ustadz yang baik dan benar seharusnya tidak berlaku kasar, tidak berbicara dengan nada yang tinggi, tidak mudah menghardik/memarahi orang lain yang berbuat kesalahan. Justru sebaliknya, ketika beliau melihat ketidakbenaran, beliau memberikan nasihat yang baik. Sikap yang kasar, tidak sopan, dan tidak simpatik, pada akhirnya akan menjauhkan seorang ustadz dari jamaahnya.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
~QS. Ali ‘Imran 159
Bersikap Rendah Hati dan Tidak Sombong
Tanpa bermaksud menuduh, orang yang diberikan kelebihan ilmu (agama), memiliki kecenderungan untuk bersikap tinggi hati dan sombong. Padahal, Allah sudah memberi warning dengan jelas:
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
~QS. Al Furqaan 63
Harus diakui bahwa ada sebagian kecil oknum yang tahu betul agama tetapi justru menggunakan pengetahuan agamanya itu untuk merendahkan atau membodohi orang lain. Misalnya, dengan orang yang belum ngerti agama, sering dibodoh-bodohi; atau dengan artis yang muslim tetapi mengenakan tank-top malah disindir dengan habis-habisan dan diremehkan.
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
~QS. Luqman 18
Harus diakui juga bahwa ada sebagian kecil oknum yang bersikap sombong dan tinggi hati karena kelebihan ilmu dan pengalamannya. Misalnya, ketika seorang ustadz disapa orang lain yang level imannya belum seberapa, beliau malas menjawab. Atau, ketika seorang ustadz disalami oleh santrinya, beliau membalas tetapi dengan setengah hati dan memalingkan muka.
Padahal, sikap-sikap tersebut adalah sikap yang kurang disenangi oleh Allah ta’ala.
Sabar dan Pemaaf
Dari sekian banyak santri dan jamaah dari seorang ustadz, pastinya ada sebagian kecil yang mbeling dan berbuat kisruh. Masalahnya, sejauh mana seorang ustadz bisa menyikapi tingkah polah santri dan jamaahnya tersebut? Banyak ustadz yang gampang marah dan tersinggung hanya karena jamaahnya sibuk mengobrol ketika beliau memberikan ceramah. Padahal, seorang ustadz seharusnya tahu bahwa segala sesuatu diciptakan sebagai cobaan bagi yang lainnya:
Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.
~QS. Al Furqaan 20
Allah sendiri malah menganjurkan kita untuk menjadi orang yang sabar, pemaaf, dan bukannya menjadi orang yang gampang marah dan naik pitam:
Jadilah Engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
~QS. Al A’raaf 199
Merangkul Semua Umat
Ustadz yang baik dan benar semestinya selalu berusaha untuk merangkul semua umat tanpa membeda-bedakan antara jenis kelamin, kelas sosial, latar belakang, atau golongan antara satu dengan yang lain. Misinya cuma satu: menyatukan umat Islam agar bersama-sama sujud kepada Allah SWT.
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
~QS. Al Mu’minuun 52-53
Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
~QS. Ar Ruum 32
Kita semua tentu tahu bahwa umat Islam secara kuantitas jumlahnya cukup fantastis. Akan tetapi, jumlah yang maha besar tersebut terpecah dalam berbagai golongan. Yang satu mengikuti aliran ulama/kyai A, sementara yang lain fanatik ajaran ulama/kyai B. Antara satu dengan yang lain seringkali tidak pernah rukun dan masing-masing merasa dirinyalah paling benar. Padahal, sejatinya, kita semua adalah umat yang satu. Sama-sama menyembah Allah. Sama-sama mengakui kenabian Rasulullah. Dan sama-sama memegang Qur’an sebagai pedoman.
Tantangan yang dihadapi seorang ustadz (selain menyebarkan ajaran Islam), adalah menyatukan umat Islam yang saling tercecer dan tidak pernah bersatu padu. Padahal, kekuatan umat Islam yang bersatu padu sujud kepada Allah ta’ala, saya percaya, bisa melebihi apapun juga.
Tidak Pernah Memaksa
Ustadz yang jempolan selayaknya tidak pernah memaksa kepada orang lain, baik itu yang belum seiman maupun dengan yang seiman. Seorang ustadz memang harus menyebarkan ajaran Islam, tetapi misalnya, tidak boleh memaksa orang lain yang belum seiman untuk masuk ke agama Islam. Allah sudah menulis dengan gamblang:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
~QS. Al Baqarah 256
Seorang ustadz juga seharusnya tidak perlu memaksa kepada orang lain yang seiman. Misalnya, memaksa jamaah putrinya untuk mengenakan jilbab, memaksa santrinya untuk selalu menunaikan sholat di masjid, atau mewajibkan semua orang untuk selalu sholat tarawih berjamaah. Meng-encorurage dan memberi pengertian sih sah-sah saja, tetapi kalau memaksa: no.
Bagaimanapun juga, setiap orang memiliki garisnya masing-masing. Dan masing-masing individu harus bertanggung jawab atas garis yang ia bentuk sendiri. Allah telah berfirman sebagai berikut.
Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
~An Nisaa’ 111
Berdoa dengan Santun dan Lembut
Tak bisa dipungkiri bahwa seorang ustadz juga sering diminta untuk memberi atau memimpin doa bagi jamaahnya. Ironisnya, sebagian ustadz berdoa dengan suara yang lantang, dengan nada tinggi, serta terkesan memaksa/menyuruh Allah untuk segera mengabulkan doanya. Padahal, Allah sudah memberikan warning tentang ini:
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
~QS. Al A’raaf 55
Tahu Betul Qur’an dan Menggunakannya sebagai Acuan
Saya akui bahwa masih cukup banyak ustadz yang melakukan syiar agama dengan dasar hadist, riwayat, dan cerita/hikayat; bukan dengan dasar Qur’an. Padahal, Allah sudah menerangkan bahwa Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa tanpa pernah ada keraguan di dalamnya (QS. Al Baqarah 2).
Masalahnya adalah menerjemahkan dan menafsirkan Qur’an bukanlah pekerjaan yang mudah. Qur’an ditulis dengan bahasa puitis serta penuh dengan kata-kata bersayap yang bermakna konotatif. Ditambah lagi, susunan Qur’an benar-benar acak, serba melompat, tidak teratur, serta tidak sistematis. Oleh karenanya, mengartikan benar-benar ayat-ayat Qur’an jelas susahnya minta ampun. Kecuali seseorang tersebut memang diberikan rahmat untuk itu.
Karena keterbatasan tersebut, akibatnya banyak ustadz yang tidak menggunakan Qur’an sebagai acuan utama, tetapi justru lebih banyak membuka dan membacakan hadist, riwayat, atau cerita/hikayat. Padahal, menggunakan Qur’an sebagai acuan sama halnya dengan mengajak jamaah untuk lebih pandai dan cerdas (khususnya) dalam mengupas Qur’an dan (umumnya) dalam beragama.
Hal ini sebenarnya mengandung “kerugian” yang potensial. Pertama: menggunakan hadist sebagai acuan sebenarnya “beresiko”, karena ada hadist yang dhoif dan hadist yang palsu. Untuk membedakannya dengan hadist yang benar-benar sahih, lagi-lagi diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang Qur’an. Kalau setelah dikroscek dengan Qur’an, ternyata hadist tersebut align, maka bisa dipastikan hadist tersebut sahih. Kalau sebaliknya, berarti hadist tersebut kemungkinan dhoif atau palsu.
Kerugian yang kedua, dan yang paling penting, adalah potensi timbulnya perselisihan. Ada sebagian golongan yang fanatik dengan riwayat/hikayat A. Sebaliknya, ada juga sebagian golongan yang lain yang justru prefer dengan riwayat/hikayat B. Akibatnya, situasi semacam ini justru mengakibatkan materi yang disampaikan seorang ustadz menjadi “debatable“. Lain halnya jika seorang ustadz hanya menggunakan Qur’an sebagai acuan. Mana ada sih yang mau mendebat Qur’an?
Tidak Meminta Bayaran
Seandainya saya seorang ustadz, kemudian diminta mengisi suatu pengajian di sebuah mesjid. Saya cuma “diamplopi” Rp 50 ribu. Seminggu kemudian saya diminta kembali mengisi pengajian di tempat yang sama. Karena tahu bahwa “fee” saya cuma segitu, saya menolak dengan alasan sibuk, atau “meng-outsource” kepada orang lain.
Sikap saya tersebut sebenarnya sudah dinilai salah oleh Allah. Allah berfirman dalam beberapa ayat agar seorang ustadz selayaknya tidak meminta fee atas “jasa” dalam mengisi pengajian, menyampaikan khutbah, atau melakukan syiar agama.
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya.
~QS. Al Furqaan 57
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.
~QS. Al An’am 90
Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah Aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.
~QS. Shaad 86
Satu hal yang pasti, ketika seseorang “meminta” atau “menyebut angka” atas jasa yang ia berikan, maka kualitas materi yang disampaikan umumnya akan cenderung menurun, karena terdistorsi terhadap keinginan/hasrat untuk mendapatkan uang/bayaran.
Lebih parah lagi, kebanyakan ustadz adalah (maaf) lulusan IAIN (UIN), Sekolah Tinggi Agama, atau pondok pesantren. Output dari lembaga-lembaga tersebut cukup banyak tetapi lapangan pekerjaan yang tersedia relatif terbatas. Kalau nggak kerja di Pengadilan Agama, jadi dosen/guru agama, ya jadi ustadz.
Akibatnya, menjadi ustadz kemudian dipersepsikan sebagai profesi untuk memenuhi kebutuhan hidup (baca: cari duit); bukan merupakan tanggung jawab untuk melakukan syiar agama. Sebenarnya sih boleh-boleh saja “meminta amplop”. Tetapi tentu saja yang akan didapat hanya sebatas duit saja, bukan pahala atas syiar agama.
Atau, akan lebih bijaksana lagi jika ketika Anda menjadi seorang ustadz, Anda menerima saja berapapun “fee” yang diberikan tanpa pernah meminta. Lalu, “fee” tersebut Anda sumbangkan buat membangun masjid, atau menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Itu jelas lebih mulia di sisi Allah ta’ala.
Menyerukan Apa yang Sudah Dilakukan
Inilah tantangan seorang ustadz yang paling berat. Seorang ustadz yang baik dan benar seharusnya sudah melakukan ajaran-ajaran agama dengan baik dan benar, khusyu, selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun; sebelum ia menyampaikannya kepada jamaah. Dengan begitu, apa yang ia sampaikan akan menjadi rahmat bagi jamaahnya. Allah sudah berfirman sebagai berikut.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
~QS. Al Baqarah 44
Sebagai contoh, umpama saya seorang ustadz dan menyerukan kepada santri saya untuk tidak melakukan (maaf) korupsi dan berbuat zina. Faktanya, saya malah sering menyembunyikan dana milik yayasan saya. Saya juga sering berbuat zina dengan perempuan, padahal saya punya istri yang di rumah. Sebaliknya, istri saya justru sering saya pukuli, saya rendahkan martabatnya, dan tidak pernah saya ajak untuk bersujud kepada Allah ta’ala. Maka Allah sebetulnya benar-benar benci kepada orang seperti saya.
Penutup
Saya rasa, beberapa hal tersebut di atas barangkali merupakan faktor-faktor yang menentukan kualitas seorang ustadz. Kita tentu tahu bahwa banyak sekali ustadz-ustadz yang begitu cepat booming tetapi juga tidak lama kemudian langsung tenggelam. Padahal keberadaan seorang ustadz senantiasa mutlak diperlukan guna menjaga keimanan umat.
Dalam Al-Qur’an juga tertulis bahwa salah satu penghuni neraka -selain wanita- adalah ulama. Peringatan ini tentunya harus dicamkan dengan baik. Karena jika tidak, seorang ustadz -yang begitu ditaklidi jamaahnya- bisa dengan mudah men-drive jamaahnya bukan kepada jalan yang lurus. Oleh karenanya, banyak sikap, kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang wajib dimiliki oleh seorang ustadz.
Last but not least, saya tidak bermaksud mengajak Anda untuk menjelek-jelekkan atau mengelompokkan ustadz-ustadz yang ada. Justru sebaliknya. Saya malah menghimbau buat diri saya pribadi juga buat pembaca sekalian agar kita semua sejak sekarang mulai membiasakan diri untuk menghormati, mendengarkan, dan memperhatikan siapapun ustadz yang menyampaikan materi. Baik itu laki-laki maupun perempuan, masih junior atau sudah senior, dari golongan A atau golongan B, belum ngetop atau sudah lalu-lalang di televisi, dan seterusnya. Allah sendiri telah menuliskan dengan cukup tegas:
Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
~Al A’raaf 204
Memang benar. Menjadi seorang ustadz atau ulama adalah tugas yang mulia; sekaligus memiliki tanggung jawab yang maha berat. Semoga sedikit uraian ini juga bisa memberi wacana baru bagi “ustadz-wannabe” atau “ulama-wannabe“. Mudah-mudahan semua ini bisa memberikan pemahaman baru dan tidak malah menjadikan fitnah. Amin.
Wassalam,
Sumber :
http://nofieiman.com/2006/09/ciri-ciri-ustadz-yang-baik-dan-benar/
28 September 2006
Baik berarti bagus secara relatif di hadapan umat manusia. Sementara benar berarti bagus secara absolut di mata Allah ta’ala, dalam artian benar-benar menjalankan apa yang diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Dan menjaga keseimbangan antara keduanya merupakan requirement yang harus dipenuhi oleh seorang ustadz.
Saya memang bukan seorang ustadz. Tapi, dari mengamati dan mengikuti beberapa pengajian, menyimak radio dan televisi, dan sebagainya, sebenarnya kita bisa belajar banyak. Lalu, bagaimana sih sebetulnya ciri-ciri ustadz yang baik dan benar itu?
Tidak Menjelekkan Orang-orang Non-Muslim
Satu hal yang pertama harus dicatat adalah ustadz yang baik dan benar selayaknya tidak pernah menjelek-jelekkan, mengutuk, menyebut kata (maaf) “kafir”, dan sebagainya kepada orang-orang Non-Muslim. Termasuk di dalamnya adalah orang-orang Yahudi, bangsa Amerika, bangsa Israel, dan seterusnya. Allah sudah memberi warning dengan sangat tegas:
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
~QS. Al An’am 108
Sebaliknya, kita malah disuruh untuk menghormati dan melindungi orang-orang yang belum seiman dengan kita. Harapannya adalah agar mereka sempat mendengar firman Allah, mendapatkan petunjuk, dan kembali kepada jalan yang benar.
Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.
~QS. At Taubah 6
Senantiasa Lemah Lembut, Sopan, dan Simpatik
Ustadz yang baik dan benar seharusnya tidak berlaku kasar, tidak berbicara dengan nada yang tinggi, tidak mudah menghardik/memarahi orang lain yang berbuat kesalahan. Justru sebaliknya, ketika beliau melihat ketidakbenaran, beliau memberikan nasihat yang baik. Sikap yang kasar, tidak sopan, dan tidak simpatik, pada akhirnya akan menjauhkan seorang ustadz dari jamaahnya.
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
~QS. Ali ‘Imran 159
Bersikap Rendah Hati dan Tidak Sombong
Tanpa bermaksud menuduh, orang yang diberikan kelebihan ilmu (agama), memiliki kecenderungan untuk bersikap tinggi hati dan sombong. Padahal, Allah sudah memberi warning dengan jelas:
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
~QS. Al Furqaan 63
Harus diakui bahwa ada sebagian kecil oknum yang tahu betul agama tetapi justru menggunakan pengetahuan agamanya itu untuk merendahkan atau membodohi orang lain. Misalnya, dengan orang yang belum ngerti agama, sering dibodoh-bodohi; atau dengan artis yang muslim tetapi mengenakan tank-top malah disindir dengan habis-habisan dan diremehkan.
Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
~QS. Luqman 18
Harus diakui juga bahwa ada sebagian kecil oknum yang bersikap sombong dan tinggi hati karena kelebihan ilmu dan pengalamannya. Misalnya, ketika seorang ustadz disapa orang lain yang level imannya belum seberapa, beliau malas menjawab. Atau, ketika seorang ustadz disalami oleh santrinya, beliau membalas tetapi dengan setengah hati dan memalingkan muka.
Padahal, sikap-sikap tersebut adalah sikap yang kurang disenangi oleh Allah ta’ala.
Sabar dan Pemaaf
Dari sekian banyak santri dan jamaah dari seorang ustadz, pastinya ada sebagian kecil yang mbeling dan berbuat kisruh. Masalahnya, sejauh mana seorang ustadz bisa menyikapi tingkah polah santri dan jamaahnya tersebut? Banyak ustadz yang gampang marah dan tersinggung hanya karena jamaahnya sibuk mengobrol ketika beliau memberikan ceramah. Padahal, seorang ustadz seharusnya tahu bahwa segala sesuatu diciptakan sebagai cobaan bagi yang lainnya:
Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat.
~QS. Al Furqaan 20
Allah sendiri malah menganjurkan kita untuk menjadi orang yang sabar, pemaaf, dan bukannya menjadi orang yang gampang marah dan naik pitam:
Jadilah Engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.
~QS. Al A’raaf 199
Merangkul Semua Umat
Ustadz yang baik dan benar semestinya selalu berusaha untuk merangkul semua umat tanpa membeda-bedakan antara jenis kelamin, kelas sosial, latar belakang, atau golongan antara satu dengan yang lain. Misinya cuma satu: menyatukan umat Islam agar bersama-sama sujud kepada Allah SWT.
Sesungguhnya (agama Tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu, dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku. Kemudian mereka (pengikut-pengikut Rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing).
~QS. Al Mu’minuun 52-53
Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
~QS. Ar Ruum 32
Kita semua tentu tahu bahwa umat Islam secara kuantitas jumlahnya cukup fantastis. Akan tetapi, jumlah yang maha besar tersebut terpecah dalam berbagai golongan. Yang satu mengikuti aliran ulama/kyai A, sementara yang lain fanatik ajaran ulama/kyai B. Antara satu dengan yang lain seringkali tidak pernah rukun dan masing-masing merasa dirinyalah paling benar. Padahal, sejatinya, kita semua adalah umat yang satu. Sama-sama menyembah Allah. Sama-sama mengakui kenabian Rasulullah. Dan sama-sama memegang Qur’an sebagai pedoman.
Tantangan yang dihadapi seorang ustadz (selain menyebarkan ajaran Islam), adalah menyatukan umat Islam yang saling tercecer dan tidak pernah bersatu padu. Padahal, kekuatan umat Islam yang bersatu padu sujud kepada Allah ta’ala, saya percaya, bisa melebihi apapun juga.
Tidak Pernah Memaksa
Ustadz yang jempolan selayaknya tidak pernah memaksa kepada orang lain, baik itu yang belum seiman maupun dengan yang seiman. Seorang ustadz memang harus menyebarkan ajaran Islam, tetapi misalnya, tidak boleh memaksa orang lain yang belum seiman untuk masuk ke agama Islam. Allah sudah menulis dengan gamblang:
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
~QS. Al Baqarah 256
Seorang ustadz juga seharusnya tidak perlu memaksa kepada orang lain yang seiman. Misalnya, memaksa jamaah putrinya untuk mengenakan jilbab, memaksa santrinya untuk selalu menunaikan sholat di masjid, atau mewajibkan semua orang untuk selalu sholat tarawih berjamaah. Meng-encorurage dan memberi pengertian sih sah-sah saja, tetapi kalau memaksa: no.
Bagaimanapun juga, setiap orang memiliki garisnya masing-masing. Dan masing-masing individu harus bertanggung jawab atas garis yang ia bentuk sendiri. Allah telah berfirman sebagai berikut.
Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.
~An Nisaa’ 111
Berdoa dengan Santun dan Lembut
Tak bisa dipungkiri bahwa seorang ustadz juga sering diminta untuk memberi atau memimpin doa bagi jamaahnya. Ironisnya, sebagian ustadz berdoa dengan suara yang lantang, dengan nada tinggi, serta terkesan memaksa/menyuruh Allah untuk segera mengabulkan doanya. Padahal, Allah sudah memberikan warning tentang ini:
Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
~QS. Al A’raaf 55
Tahu Betul Qur’an dan Menggunakannya sebagai Acuan
Saya akui bahwa masih cukup banyak ustadz yang melakukan syiar agama dengan dasar hadist, riwayat, dan cerita/hikayat; bukan dengan dasar Qur’an. Padahal, Allah sudah menerangkan bahwa Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa tanpa pernah ada keraguan di dalamnya (QS. Al Baqarah 2).
Masalahnya adalah menerjemahkan dan menafsirkan Qur’an bukanlah pekerjaan yang mudah. Qur’an ditulis dengan bahasa puitis serta penuh dengan kata-kata bersayap yang bermakna konotatif. Ditambah lagi, susunan Qur’an benar-benar acak, serba melompat, tidak teratur, serta tidak sistematis. Oleh karenanya, mengartikan benar-benar ayat-ayat Qur’an jelas susahnya minta ampun. Kecuali seseorang tersebut memang diberikan rahmat untuk itu.
Karena keterbatasan tersebut, akibatnya banyak ustadz yang tidak menggunakan Qur’an sebagai acuan utama, tetapi justru lebih banyak membuka dan membacakan hadist, riwayat, atau cerita/hikayat. Padahal, menggunakan Qur’an sebagai acuan sama halnya dengan mengajak jamaah untuk lebih pandai dan cerdas (khususnya) dalam mengupas Qur’an dan (umumnya) dalam beragama.
Hal ini sebenarnya mengandung “kerugian” yang potensial. Pertama: menggunakan hadist sebagai acuan sebenarnya “beresiko”, karena ada hadist yang dhoif dan hadist yang palsu. Untuk membedakannya dengan hadist yang benar-benar sahih, lagi-lagi diperlukan pengetahuan yang mendalam tentang Qur’an. Kalau setelah dikroscek dengan Qur’an, ternyata hadist tersebut align, maka bisa dipastikan hadist tersebut sahih. Kalau sebaliknya, berarti hadist tersebut kemungkinan dhoif atau palsu.
Kerugian yang kedua, dan yang paling penting, adalah potensi timbulnya perselisihan. Ada sebagian golongan yang fanatik dengan riwayat/hikayat A. Sebaliknya, ada juga sebagian golongan yang lain yang justru prefer dengan riwayat/hikayat B. Akibatnya, situasi semacam ini justru mengakibatkan materi yang disampaikan seorang ustadz menjadi “debatable“. Lain halnya jika seorang ustadz hanya menggunakan Qur’an sebagai acuan. Mana ada sih yang mau mendebat Qur’an?
Tidak Meminta Bayaran
Seandainya saya seorang ustadz, kemudian diminta mengisi suatu pengajian di sebuah mesjid. Saya cuma “diamplopi” Rp 50 ribu. Seminggu kemudian saya diminta kembali mengisi pengajian di tempat yang sama. Karena tahu bahwa “fee” saya cuma segitu, saya menolak dengan alasan sibuk, atau “meng-outsource” kepada orang lain.
Sikap saya tersebut sebenarnya sudah dinilai salah oleh Allah. Allah berfirman dalam beberapa ayat agar seorang ustadz selayaknya tidak meminta fee atas “jasa” dalam mengisi pengajian, menyampaikan khutbah, atau melakukan syiar agama.
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya.
~QS. Al Furqaan 57
Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.
~QS. Al An’am 90
Katakanlah (hai Muhammad): “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah Aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.
~QS. Shaad 86
Satu hal yang pasti, ketika seseorang “meminta” atau “menyebut angka” atas jasa yang ia berikan, maka kualitas materi yang disampaikan umumnya akan cenderung menurun, karena terdistorsi terhadap keinginan/hasrat untuk mendapatkan uang/bayaran.
Lebih parah lagi, kebanyakan ustadz adalah (maaf) lulusan IAIN (UIN), Sekolah Tinggi Agama, atau pondok pesantren. Output dari lembaga-lembaga tersebut cukup banyak tetapi lapangan pekerjaan yang tersedia relatif terbatas. Kalau nggak kerja di Pengadilan Agama, jadi dosen/guru agama, ya jadi ustadz.
Akibatnya, menjadi ustadz kemudian dipersepsikan sebagai profesi untuk memenuhi kebutuhan hidup (baca: cari duit); bukan merupakan tanggung jawab untuk melakukan syiar agama. Sebenarnya sih boleh-boleh saja “meminta amplop”. Tetapi tentu saja yang akan didapat hanya sebatas duit saja, bukan pahala atas syiar agama.
Atau, akan lebih bijaksana lagi jika ketika Anda menjadi seorang ustadz, Anda menerima saja berapapun “fee” yang diberikan tanpa pernah meminta. Lalu, “fee” tersebut Anda sumbangkan buat membangun masjid, atau menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Itu jelas lebih mulia di sisi Allah ta’ala.
Menyerukan Apa yang Sudah Dilakukan
Inilah tantangan seorang ustadz yang paling berat. Seorang ustadz yang baik dan benar seharusnya sudah melakukan ajaran-ajaran agama dengan baik dan benar, khusyu, selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun; sebelum ia menyampaikannya kepada jamaah. Dengan begitu, apa yang ia sampaikan akan menjadi rahmat bagi jamaahnya. Allah sudah berfirman sebagai berikut.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?
~QS. Al Baqarah 44
Sebagai contoh, umpama saya seorang ustadz dan menyerukan kepada santri saya untuk tidak melakukan (maaf) korupsi dan berbuat zina. Faktanya, saya malah sering menyembunyikan dana milik yayasan saya. Saya juga sering berbuat zina dengan perempuan, padahal saya punya istri yang di rumah. Sebaliknya, istri saya justru sering saya pukuli, saya rendahkan martabatnya, dan tidak pernah saya ajak untuk bersujud kepada Allah ta’ala. Maka Allah sebetulnya benar-benar benci kepada orang seperti saya.
Penutup
Saya rasa, beberapa hal tersebut di atas barangkali merupakan faktor-faktor yang menentukan kualitas seorang ustadz. Kita tentu tahu bahwa banyak sekali ustadz-ustadz yang begitu cepat booming tetapi juga tidak lama kemudian langsung tenggelam. Padahal keberadaan seorang ustadz senantiasa mutlak diperlukan guna menjaga keimanan umat.
Dalam Al-Qur’an juga tertulis bahwa salah satu penghuni neraka -selain wanita- adalah ulama. Peringatan ini tentunya harus dicamkan dengan baik. Karena jika tidak, seorang ustadz -yang begitu ditaklidi jamaahnya- bisa dengan mudah men-drive jamaahnya bukan kepada jalan yang lurus. Oleh karenanya, banyak sikap, kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan yang wajib dimiliki oleh seorang ustadz.
Last but not least, saya tidak bermaksud mengajak Anda untuk menjelek-jelekkan atau mengelompokkan ustadz-ustadz yang ada. Justru sebaliknya. Saya malah menghimbau buat diri saya pribadi juga buat pembaca sekalian agar kita semua sejak sekarang mulai membiasakan diri untuk menghormati, mendengarkan, dan memperhatikan siapapun ustadz yang menyampaikan materi. Baik itu laki-laki maupun perempuan, masih junior atau sudah senior, dari golongan A atau golongan B, belum ngetop atau sudah lalu-lalang di televisi, dan seterusnya. Allah sendiri telah menuliskan dengan cukup tegas:
Dan apabila dibacakan Al Quran, Maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat.
~Al A’raaf 204
Memang benar. Menjadi seorang ustadz atau ulama adalah tugas yang mulia; sekaligus memiliki tanggung jawab yang maha berat. Semoga sedikit uraian ini juga bisa memberi wacana baru bagi “ustadz-wannabe” atau “ulama-wannabe“. Mudah-mudahan semua ini bisa memberikan pemahaman baru dan tidak malah menjadikan fitnah. Amin.
Wassalam,
Sumber :
http://nofieiman.com/2006/09/ciri-ciri-ustadz-yang-baik-dan-benar/
28 September 2006
Daftar Ustadz Terpercaya !
Assalamu 'alaikum warahmatullah...
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: " Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang-nya, sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan di tanya" (QS Al-Isra': 36).
Imam Muhammad Ibnu Sirin berkata: "Sesungguhnya ilmu itu dien, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil dienmu."
Menanggapi permintaan akhi Ilham dari Malaysia, berikut nama ustadz yang kami rekomendasikan untuk kita berguru dan belajar ilmu-ilmu Islam dgn manhaj Salaf dan tidak terlibat permasalahan diantaranya tidak terlibat dgn Ihya ut Turath, Al Haramain, Al Sofwah.
Daftar Ustadz Salafy yang direkomendasikan = SILAKAN BELAJAR DENGAN PENUH PERHATIAN !!!
Berikut daftar yang telah kami susun :
1. Al Ustadz Abdul Jabbar (Posisi terakhir Staff Pengajar Ponpes Difa' anis Sunnah Bantul, mukim di Dlingo, Bantul). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman.
2. Al Ustadz Abdul Mu'thi al Maidani (mukim di Sleman, DI Jogjakarta) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : PP. AL Anshar, dekat Perum Veteran "Tumbal Negara", Dusun Kencuran, kel Sukoharjo, Ngemplak , Sleman. Telp. (0274) 897519
3. Al Ustadz Abdurahman Mubarak (mukim di Cileungsi, Bogor). Alamat : Depan pasar Kp. Cikalagan No. 10 Rt 1/10 Cileungsi, Bogor
4. Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf (mukim di Bandung) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. Sekelimus VII no.11 Bandung, Tlp. 7563451
5. Al Ustadz Abu Karimah Asykari (Posisi Terakhir : Pengajar PP. Ibnul Qayyim, mukim di Balikpapan, Kalimantan). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111 Balikpapan, Kaltim.
6. Al Ustadz Abu Sa'id Hamzah (mukim di Jember)
7. Al Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin (mukim di Sorong, Irian Jaya). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. A Yani no.40 Masjid Raya Al-Akbar Sorong HBM (0951)323115 Irian Jaya
8. Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an Nawawi asal Lombok (Posisi Terakhir Mudir Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja Magelang Km. 13 Batikan Mungkid (0293)782005
9. Al Ustadz Adi Abdullah (mukim di Lampung). Alamat : Purwosari Link VII Rt 20/8 Purwosari, Metro Utara, Lampung HP: 08154016031
10. Al Ustadz Ali Basuki, Lc (mukim di Aceh). Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
11. Al Ustadz Agus Suadi (mukim di Gresik, Jawa Timur)
12. Al Ustadz Ahmad Hamdani (mukim di Tangerang). Alamat : Perum Kroncong Blok DP4 no 2 Jatiuwung, Tangerang.
13. Al Ustadz Chalil (mukim Buton, Sultra). Alamat : Jl. MH. Thamrin no. 72 Kel. Batara Guru Kec. Wolio, Buton, Telp. (0402)22452
14. Al Ustadz Fauzan (mukim di Sukoharjo). Alamat : Yayasan Ittiba?us Sunnah Sukoharjo, Tawang Rt 02 Rw 01 Weru Sukoharjo, Hp. 08179475816 Jawa Tengah
15. Al Ustadz Hariyadi, Lc (mukim di Surabaya). Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
16. Al Ustadz Idral Harits Abu Muhammad (mukim di Sukoharjo). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Yayasan Ittiba?us Sunnah Sukoharjo, Tawang Rt 02 Rw 01 Weru Sukoharjo, Hp. 08179475816 Jawa Tengah
17. Al Ustadz Khotib Muwwahid (mukim di Ciamis, Jawa Barat). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman.
18. Al Ustadz Luqman Ba'abduh (Posisi Terakhir Mudir PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. MH Tamrin Gg. Kepodang No. 5 Jember (0331) 337440. Rute : Dari terminal Tawang Alun Jember: a. Naik lin G, turun di terminal Gladak Pakem (terminal terakhir). b. Dari Terminal Gladak Pakem +/- 500 m ke arah Ma'had. Dari Stasiun Jember: a. +/- 700 m ke arah Alun-alun (Halte Pemda Jember). b. Naik lin G, Turun di terminal Gladak Pakem (terminal terakhir). c.Dari Terminal Gladak Pakem +/- 500 m ke arah Ma'had
19. Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed (mukim di Cirebon, Jawa Barat). Murid Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin, Saudi Arabia. Alamat : Ponpes Dhiya?us Sunnah, Jl. Dukuh Semar RT 6 Cirebon, 0231 22185/200721
20. Al Ustadz Muhammad Barmen (mukim di Surabaya). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman.
21. Al Ustadz Muhammad Ikhsan (Pimpinan Ponpes Difa' anis Sunnah Bantul, mukim di Bantul)
22. Al Ustadz Muhammad Irfan (mukim di Surabaya)
23. Al Ustadz Muhammad Sarbini (Posisi Terakhir Mudir Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja Magelang Km. 13 Batikan Mungkid (0293)782005
24. Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari (Posisi Terakhir Mudir PP. Kroya). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman.
25. Al Ustadz Qomar Su'aidi, Lc (Posisi Terakhir Editor majalah Asy Syariah, mukim di Temanggung). Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Alamat : Jl. Magelang km 5, Gg Bima no 39 DIJ Telp (0274) 580439
26. Al Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc (Posisi Terakhir Mudir PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember). Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
27. AL Ustadz Usamah bin Faishal Mahri, Lc (mukim di Malang. Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
28. Al Ustadz Muhammad Ikhsan (Pimpinan Ponpes Difa' anis Sunnah Bantul, mukim di Bantul)
29. Al Ustadz Yasir (mukim di Ambon, Maluku. Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780
30. Al Ustadz Zainul Arifin (mukim di Surabaya). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jl. Jojoran 1 Blok K no. 18 Telp. (031) 5921921
Demikian informasi ini, harap dikoreksi apabila ada kekurangan atau kesalahan ke webmaster@xxxxxxxxxxxx.
Pengelola
Wassalamu 'alaikum warahmatullah...
Sumber :
http://www.salafy.or.id/download/ustadz_terpercaya.txt, dalam :
http://www.freelists.org/post/salafy/Daftar-Ustadz-Terpercaya,1
16 Desember 2003
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, artinya: " Dan janganlah engkau ikuti apa yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang-nya, sesungguhnya pendengaran, pengelihatan dan hati semuanya itu akan di tanya" (QS Al-Isra': 36).
Imam Muhammad Ibnu Sirin berkata: "Sesungguhnya ilmu itu dien, maka lihatlah dari siapa kamu mengambil dienmu."
Menanggapi permintaan akhi Ilham dari Malaysia, berikut nama ustadz yang kami rekomendasikan untuk kita berguru dan belajar ilmu-ilmu Islam dgn manhaj Salaf dan tidak terlibat permasalahan diantaranya tidak terlibat dgn Ihya ut Turath, Al Haramain, Al Sofwah.
Daftar Ustadz Salafy yang direkomendasikan = SILAKAN BELAJAR DENGAN PENUH PERHATIAN !!!
Berikut daftar yang telah kami susun :
1. Al Ustadz Abdul Jabbar (Posisi terakhir Staff Pengajar Ponpes Difa' anis Sunnah Bantul, mukim di Dlingo, Bantul). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman.
2. Al Ustadz Abdul Mu'thi al Maidani (mukim di Sleman, DI Jogjakarta) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : PP. AL Anshar, dekat Perum Veteran "Tumbal Negara", Dusun Kencuran, kel Sukoharjo, Ngemplak , Sleman. Telp. (0274) 897519
3. Al Ustadz Abdurahman Mubarak (mukim di Cileungsi, Bogor). Alamat : Depan pasar Kp. Cikalagan No. 10 Rt 1/10 Cileungsi, Bogor
4. Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf (mukim di Bandung) Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. Sekelimus VII no.11 Bandung, Tlp. 7563451
5. Al Ustadz Abu Karimah Asykari (Posisi Terakhir : Pengajar PP. Ibnul Qayyim, mukim di Balikpapan, Kalimantan). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : PP. Ibnul Qayyim Jl.Projakal Km.5,5 RT 29 No.111 Balikpapan, Kaltim.
6. Al Ustadz Abu Sa'id Hamzah (mukim di Jember)
7. Al Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin (mukim di Sorong, Irian Jaya). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. A Yani no.40 Masjid Raya Al-Akbar Sorong HBM (0951)323115 Irian Jaya
8. Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah an Nawawi asal Lombok (Posisi Terakhir Mudir Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja Magelang Km. 13 Batikan Mungkid (0293)782005
9. Al Ustadz Adi Abdullah (mukim di Lampung). Alamat : Purwosari Link VII Rt 20/8 Purwosari, Metro Utara, Lampung HP: 08154016031
10. Al Ustadz Ali Basuki, Lc (mukim di Aceh). Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
11. Al Ustadz Agus Suadi (mukim di Gresik, Jawa Timur)
12. Al Ustadz Ahmad Hamdani (mukim di Tangerang). Alamat : Perum Kroncong Blok DP4 no 2 Jatiuwung, Tangerang.
13. Al Ustadz Chalil (mukim Buton, Sultra). Alamat : Jl. MH. Thamrin no. 72 Kel. Batara Guru Kec. Wolio, Buton, Telp. (0402)22452
14. Al Ustadz Fauzan (mukim di Sukoharjo). Alamat : Yayasan Ittiba?us Sunnah Sukoharjo, Tawang Rt 02 Rw 01 Weru Sukoharjo, Hp. 08179475816 Jawa Tengah
15. Al Ustadz Hariyadi, Lc (mukim di Surabaya). Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
16. Al Ustadz Idral Harits Abu Muhammad (mukim di Sukoharjo). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Yayasan Ittiba?us Sunnah Sukoharjo, Tawang Rt 02 Rw 01 Weru Sukoharjo, Hp. 08179475816 Jawa Tengah
17. Al Ustadz Khotib Muwwahid (mukim di Ciamis, Jawa Barat). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman.
18. Al Ustadz Luqman Ba'abduh (Posisi Terakhir Mudir PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Jl. MH Tamrin Gg. Kepodang No. 5 Jember (0331) 337440. Rute : Dari terminal Tawang Alun Jember: a. Naik lin G, turun di terminal Gladak Pakem (terminal terakhir). b. Dari Terminal Gladak Pakem +/- 500 m ke arah Ma'had. Dari Stasiun Jember: a. +/- 700 m ke arah Alun-alun (Halte Pemda Jember). b. Naik lin G, Turun di terminal Gladak Pakem (terminal terakhir). c.Dari Terminal Gladak Pakem +/- 500 m ke arah Ma'had
19. Al Ustadz Muhammad Umar As Sewed (mukim di Cirebon, Jawa Barat). Murid Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin, Saudi Arabia. Alamat : Ponpes Dhiya?us Sunnah, Jl. Dukuh Semar RT 6 Cirebon, 0231 22185/200721
20. Al Ustadz Muhammad Barmen (mukim di Surabaya). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman.
21. Al Ustadz Muhammad Ikhsan (Pimpinan Ponpes Difa' anis Sunnah Bantul, mukim di Bantul)
22. Al Ustadz Muhammad Irfan (mukim di Surabaya)
23. Al Ustadz Muhammad Sarbini (Posisi Terakhir Mudir Ponpes Minhajus Sunnah Magelang, mukim di Muntilan, Magelang). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Ponpes Minhajussunnah, Jl. Raya Jogja Magelang Km. 13 Batikan Mungkid (0293)782005
24. Al Ustadz Muslim Abu Ishaq Al Atsari (Posisi Terakhir Mudir PP. Kroya). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman.
25. Al Ustadz Qomar Su'aidi, Lc (Posisi Terakhir Editor majalah Asy Syariah, mukim di Temanggung). Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Alamat : Jl. Magelang km 5, Gg Bima no 39 DIJ Telp (0274) 580439
26. Al Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc (Posisi Terakhir Mudir PP As Salafy di Jember, Jawa Timur, mukim di Jember). Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
27. AL Ustadz Usamah bin Faishal Mahri, Lc (mukim di Malang. Alumni Jami'ah Islamiyyah Medinah/Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia
28. Al Ustadz Muhammad Ikhsan (Pimpinan Ponpes Difa' anis Sunnah Bantul, mukim di Bantul)
29. Al Ustadz Yasir (mukim di Ambon, Maluku. Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Yayasan Abu Bakar Shidiq BTN Kebuncengkeh, Batumerah, Ambon Maluku (0911)353780
30. Al Ustadz Zainul Arifin (mukim di Surabaya). Alumni Ponpes Murid Syaikh Muqbil Bin Hadi Al Wadi'i, Dammaj, Yaman. Alamat : Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, Jl. Jojoran 1 Blok K no. 18 Telp. (031) 5921921
Demikian informasi ini, harap dikoreksi apabila ada kekurangan atau kesalahan ke webmaster@xxxxxxxxxxxx.
Pengelola
Wassalamu 'alaikum warahmatullah...
Sumber :
http://www.salafy.or.id/download/ustadz_terpercaya.txt, dalam :
http://www.freelists.org/post/salafy/Daftar-Ustadz-Terpercaya,1
16 Desember 2003
Langganan:
Postingan (Atom)